Longsor Sampah TPST Bantargebang Zona 4 Bagaikan Bom Waktu, Hingga Menelan Korban Meninggal Dunia
Kota Bekasi | Media K-PK – Longsor gunungan sampah terjadi di Zona 4 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, pada Minggu (8/3/2026).
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Peristiwa tersebut mengakibatkan empat orang meninggal dunia serta menimbun sejumlah kendaraan truk pengangkut sampah.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga Senin (9/3/2026) pagi, longsoran sampah menimpa armada truk yang tengah mengantre untuk melakukan pembuangan di titik buang TPST milik Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST) Bantargebang milik Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.
Empat korban meninggal dunia dalam peristiwa tersebut yakni EW (25) dan SN (60) yang berprofesi sebagai pemulung, serta dua sopir truk sampah DS dan ES.
Sementara beberapa korban lainnya berhasil selamat, di antaranya sopir bernama Sarifudin, Johan, serta Frianda Budiman yang mengalami cedera ringan, serta Lima korban yang belum diketemukan.
Selain korban jiwa, longsoran sampah juga menimbulkan kerugian materiil berupa enam unit truk pengangkut sampah yang tertimbun maupun terdorong ke aliran sungai di sekitar lokasi.
Berdasarkan kronologi kejadian, saat itu armada truk pengangkut sampah sedang mengantre di area parkir untuk menuju titik pembuangan. Tiba-tiba tumpukan sampah di Zona 4 longsor dan menimbun sejumlah kendaraan yang berada di lokasi.
Diduga longsor terjadi akibat intensitas hujan tinggi yang mengguyur kawasan Bantargebang pada pagi hingga siang hari.
Selain itu, kondisi dasar tumpukan sampah yang lama dengan lapisan tanah merah menyebabkan air tertampung dan memicu pergeseran material sampah hingga akhirnya longsor.
Peristiwa tersebut langsung memicu operasi evakuasi gabungan yang melibatkan berbagai unsur, di antaranya TNI, Polri, Basarnas, BPBD Provinsi DKI Jakarta, BPBD Kota Bekasi, serta petugas UPST Bantargebang.
Dalam proses penanganan, sedikitnya 16 unit eskavator dan 11 unit ambulans dikerahkan untuk mempercepat pencarian dan evakuasi korban.
Sejumlah pejabat turut hadir melakukan monitoring di lokasi kejadian, di antaranya Menteri Lingkungan Hidup Dr. Hanif Faisol Nurofiq, Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Dekananto Eko Purnomo, Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol Kusumo Wahyu Bintoro, Dandim 0507/Bekasi Kolonel Arm Krisrantau Hermawan, Camat Bantargebang Brahma Sumpomo, serta unsur pemerintah daerah lainnya.
Anggota DPRD Kota Bekasi Fraksi Golkar, Sarwin Edi Saputra, menyampaikan keprihatinannya atas peristiwa yang menelan korban jiwa tersebut.
Menurutnya, kejadian ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah di TPST Bantargebang yang selama ini menampung sebagian besar sampah dari wilayah DKI Jakarta.
“Pertama tentu kami turut berduka cita yang mendalam atas meninggalnya para korban dalam peristiwa longsor di TPST Bantargebang. Kejadian ini harus menjadi perhatian serius semua pihak, khususnya terkait aspek keselamatan bagi para pekerja maupun masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan tersebut,” ujar Sarwin.
Ia menilai pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Pemerintah Kota Bekasi perlu memperkuat koordinasi dalam melakukan evaluasi terhadap kondisi TPST Bantargebang yang telah beroperasi selama puluhan tahun.
“Kondisi TPST Bantargebang yang sudah menampung puluhan juta ton sampah tentu membutuhkan penanganan yang lebih modern dan berkelanjutan. Perlu ada langkah konkret, baik dari sisi teknologi pengolahan sampah, pengurangan beban sampah, maupun peningkatan standar keselamatan di lokasi,” katanya.
Sarwin juga mendorong agar proses investigasi yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dapat berjalan transparan sehingga penyebab pasti kejadian dapat diketahui.
“Kami berharap investigasi yang dilakukan bisa mengungkap secara menyeluruh faktor penyebab longsor ini, sehingga ke depan kejadian serupa tidak kembali terjadi,” pungkasnya. (DN)

