PILIHANRIAU-KEPRI-JAMBI

“Rela Berputih Tulang”: Pesan Keras Tokoh Melayu untuk Jaga Marwah Negeri  

 

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

 

Batam | mediakpk.co.id —  Gelombang suara anak negeri kembali menggema di tengah derasnya arus pembangunan dan perubahan zaman. Sejumlah tokoh masyarakat Melayu mulai menyuarakan pentingnya menjaga marwah, adat, serta hak masyarakat tempatan agar tidak terpinggirkan di tanah sendiri.

Pesan tersebut disampaikan melalui bait pantun Melayu yang sarat makna dan kini ramai diperbincangkan di tengah masyarakat:

Bertanak nasi di dalam dandang,

Dimasak ibu di hari senja.

Rela kami berputih tulang,

Daripada hidup berputih mata.

Pantun itu dinilai bukan sekadar ungkapan budaya, melainkan sebuah pesan moral agar pembangunan daerah tetap menghormati nilai adat, budaya, serta keberadaan masyarakat Melayu sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

Sejumlah tokoh Melayu menegaskan bahwa masyarakat tempatan tidak pernah menolak kedatangan siapa pun yang ingin mencari rezeki maupun membangun kehidupan di daerah ini. Namun, mereka mengingatkan agar seluruh pihak tetap menjaga etika, menghormati adat istiadat Melayu, dan tidak bersikap semena-mena terhadap masyarakat setempat.

“Negeri ini dibangun dengan adat dan marwah. Pendatang yang datang dengan niat baik tentu kita sambut sebagai saudara. Namun jangan sampai anak negeri merasa tersisih di kampung halamannya sendiri,” ujar salah seorang tokoh masyarakat kepada media ini.

Selain itu, para tokoh masyarakat juga meminta pemerintah agar lebih peka terhadap kondisi sosial masyarakat bawah, mulai dari persoalan lapangan pekerjaan, penguasaan ekonomi, hingga berbagai persoalan sosial lain yang dinilai mulai memunculkan kecemburuan di tengah masyarakat.

Pantun Melayu yang kembali digaungkan tersebut kini disebut menjadi simbol keteguhan masyarakat dalam menjaga identitas, kehormatan, dan marwah negeri Melayu di tengah derasnya perubahan zaman dan arus modernisasi.

 

(Jek, Sprong)

error: Content is protected !!