JAKARTA-BANTENPILIHAN

Ketegangan FPI dan PWI-LS: Perbedaan Nasab Berujung Konflik Berkepanjangan

Jakarta | Media K-PK

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Ketegangan antara dua ormas berbasis keislaman kembali menjadi sorotan publik. Kali ini melibatkan Pejuang Walisongo Indonesia – Laskar Sabilillah (PWI-LS) dan Front Persaudaraan Islam (FPI). Kedua kelompok ini memiliki latar belakang ideologis dan gaya perjuangan yang berbeda dalam menyikapi isu-isu sosial, politik, dan keagamaan di Indonesia.

PWI-LS dikenal sebagai ormas yang mengusung nilai-nilai perjuangan Walisongo. Gerakannya berpijak pada tradisi Nahdliyin, dengan fokus pada penguatan sosial-keagamaan, budaya pesantren, dan dakwah kultural.

Sementara itu, FPI yang kini bertransformasi menjadi Front Persaudaraan Islam setelah pembubaran resmi Front Pembela Islam oleh pemerintah pada tahun 2020 tetap mengklaim konsistensi dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dan memperjuangkan hak-hak umat Islam dalam berbagai isu kebangsaan.

Ketegangan antara kedua ormas ini bukan baru terjadi. Sudah berlangsung selama 2,5 tahun, konflik berlarut-larut ini berawal dari perdebatan soal nasab atau garis keturunan Nabi Muhammad SAW, yang kemudian merembet ke isu-isu lain seperti legitimasi keilmuan, otoritas dakwah, dan pengaruh di masyarakat.

Debat demi debat, dialog demi dialog telah ditempuh oleh kedua belah pihak. Isu utama yang sempat menjadi polemik adalah definisi nasab yang sahih, khususnya dalam kaitan nasab antara ayah, anak, hingga keturunan ke bawah Nabi Muhammad.

Namun, persoalan ini secara formal sebenarnya sudah diselesaikan. Beberapa ormas Islam menyepakati referensi ilmiah yang tertuang dalam sebuah buku tebal 574 halaman, yang memuat definisi dan rujukan sahih terkait nasab tersebut.

Meski demikian, ketegangan sosial dan psikis di lapangan belum sepenuhnya mereda. Rivalitas tetap terasa, baik di forum dakwah maupun di dunia maya.

Indonesia adalah rumah bagi banyak ekspresi Islam: dari yang tradisional, moderat, hingga yang revolusioner. Perbedaan ini semestinya menjadi kekayaan, bukan bahan perpecahan.

> “Kalau umat Islam terus terpecah karena perbedaan ormas, siapa yang akan menjaga bangsa ini dari pihak-pihak yang ingin menghancurkannya dari dalam?” ucap KH Sahlan, seorang ulama senior dari Jawa Timur.

Musuh-musuh sejati umat justru bisa menyusup di tengah celah konflik ini, memanfaatkan kelemahan solidaritas umat demi agenda destruktif.

Semangat tabayyun (klarifikasi) dan musyawarah perlu terus didorong agar kekuatan Islam tidak habis dalam pertikaian internal. Perbedaan tafsir, metode dakwah, bahkan silsilah, seharusnya dapat disikapi dengan ilmu, adab, dan akhlak.

Umat Islam Indonesia telah menunjukkan kepada dunia bahwa keberagaman mazhab dan ormas bisa berjalan berdampingan. Maka, menjaga ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah menjadi tugas kita bersama, agar Islam tetap menjadi rahmat bagi seluruh alam.

(Suroso)

error: Content is protected !!