Uncategorized

*Mulia Karena Akhlak* Ocit Abdurrosyid Siddiq

mediakpk.co.id – Pekan ini publik sedang riuh oleh ulah Gus Miftah, seorang penceramah yang juga memiliki jabatan sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan dalam Kabinet Indonesia Maju di bawah Presiden Prabowo Subianto.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Riuh karena seloroh dia dalam sebuah acara keagamaan yang dihadiri oleh ratusan jamaah. Diantara jamaah terdapat seorang mamang penjual es yang dijadikan objek tausiyah oleh sang penceramah yang menyelipkan kata dan kalimat yang tidak pantas.

Saya tidak menyoal perkara pantas dan tidak pantasnya kata dan kalimat dalam ceramah tersebut. Saya justru tertarik pada pribadi sang penceramah yang dikenal dengan sebutan Gus tersebut. Biasanya, sapaan Gus dipakai untuk menyapa anak seorang kiai.

Rupanya ada netizen yang menguliti sosok pribadi Gus Miftah. Menurut satu versi informasi, yang bersangkutan bukan anak dari seorang kiai. Karenanya Sebagian netizen menilai dia tidak layak untuk disapa dengan sebutan “Gus”.

Sapaan “Gus” merupakan wujud penghormatan kepada seseorang yang menyandangnya. Gus yang adalah anak seorang kiai, pastinya memiliki sifat-sifat mulia yang diturunkan oleh bapaknya. Selain ilmunya luas, dalam, dan tinggi, akhlaknya juga baik.

Kemuliaan seseorang, selain karena faktor akhlak, juga karena iman, ilmu, dan kebermanfaatan. Banyak dalil yang menjadi dasarnya. Satu diantaranya adalah bahwa khoirunnas anfauhum linnas.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya”. Hadits lain menegaskan, jika misi utama Rosulullah SAW diutus adalah menyempurnakan akhlak yang mulia.

Dengan demikian, kemuliaan hidup seseorang antara lain ditentukan oleh akhlak. Bukan oleh yang lain. Misalnya nasab, keturunan, kekayaan, jabatan, atau sederet gelar yang panjangnya melebihi namanya.

Tetapi norma ini kadang tidak berlaku. Faktanya, orang dengan kekayaan berlimpah menempati status sosial tinggi. Muncullah sebutan sultan bagi horang kaya ini.

Atau karena jabatan, juga menempatkan seseorang seolah menempati posisi tinggi. Banyak orang menyanjung bahkan menjilat tersebab seseorang menjadi pejabat.

Juga karena nasab dan atau keturunan. Hanya karena orangtuanya menyandang nama besar, maka anaknya menjadi terbawa besar. Atau tersebab memiliki darah yang bertrah bangsawan.

Belakangan, muncul trend pada sebagian orang dengan menambahkan nama dirinya dengan sebutan yang berasal dari nasab atau keturunan. Misalnya habib, sayyid, mas, entol, dan tubagus.

Entah mengapa, sebagian besar orang -berarti tidak seluruhnya- penyandangnya merasa bangga dan menikmati pada sebutan-sebutan kelas sosial seperti itu. Mungkin terasa keren.

Yang mengherankan, justru orang yang sebelumnya selama ini tidak dan bukan berasal dari nasab yang mewarisi keturunan dan sebutan itu, ujug-ujug tampil dengan gelar dadakan.

Apakah sebutan atau gelar yang muncul dadakan ini untuk menambahkan aura atau marwah dirinya sebagai cara untuk meningkatkan kelas? Entahlah.

Salah satu contohnya, yang saya tahu adalah ketika seseorang menyertakan sebutan “tubagus” pada namanya, menandakan dia punya garis keturunan dari pendiri Kesultanan Banten.

Di Banten, selain sebutan tubagus, juga ada sebutan “mas” dan “entol”. Ketiganya dianggap sebagai keturunan dari pendiri Kesultanan Banten.

Gelar tubagus disandang bagi seseorang yang memiliki garis leluhur yang juga menyandang gelar yang sama dan tidak terputus hingga Sultan Maulana Hasanudin Banten.

Bahkan sejatinya, sejak Sultan Maulana Hasanudin Banten hingga beberapa generasi berikutnya, tidak dan belum mengenal sebutan itu. Gelar itu muncul belakangan semasa sultan-sultan penerusnya.

Ketika seseorang menyemat sebutan pada dirinya dengan tubagus, padahal bapaknya tidak, maka sebutan itu tidak absah. Pun bila mewarisi genetika dari seorang ibu yang adalah seorang anak tubagus.

Perkara ini entah dari mana rujukannya. Yang jelas, pakem di masyarakat menyebutkan bahwa bila seorang ibu yang berayahkan seorang tubagus, maka dia tidak bisa mewariskan sebutan tubagus pada anak lelakinya.

Makanya lucu, ketika ada seorang perempuan dari Banten dengan ayah yang tidak menyandang sebutan tubagus, menikah dengan lelaki dari salah satu kabupaten di Jawa-Barat, dan berdomisili di tatar Priangan.

Ketika punya anak laki-laki, maka sebagai cara untuk menguatkan jatidiri sebagai orang yang berasal dari Banten, menyematkan sebutan tubagus bagi anaknya. Bahkan semua anak lelakinya punya sebutan yang sama.

Lalu, ketika anak-anaknya menikah dan punya anak lelaki, mereka kemudian mewariskan sebutan itu pada generasi berikutnya. Padahal sanad nasabnya terputus, hehe..

Gejala menyematkan sebutan atau gelar sebagai tambahan pada nama ini juga melanda sebagian dari kita yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Banyak yang kuliah dalam rangka untuk meningkatkan kapasitas dirinya dalam suatu disiplin ilmu. Namun ada diantaranya yang cuma berburu untuk mengoleksi gelar.

Karena dengan banyaknya gelar, bagi pengoleksi gelar dengan niat demikian, seolah membuatnya menjadi lebih terhormat, lebih mulia, lebih bergengsi, dan lebih menempatkan dirinya sebagai penghuni sosial kelas atas.

Padahal, sebagaimana pesan Rosulullah SAW diatas, kemuliaan seseorang itu bisa didapat dengan cara berprilaku dan berakhlak yang baik, yang bisa direngkuh oleh setiap orang, tanpa nasab, tanpa kuliah.

Jadi, menurut agama, untuk mendapatkan posisi mulia atau terhormat, tidak mesti punya nasab bangsawan berdarah biru, tidak mesti kuliah tinggi di perguruan tinggi dengan sederet gelar.

Tidak juga dengan kekayaan berlimpah hingga disebut sebagai sultan yang adalah horang kaya. Atau bukan juga jabatan tinggi dalam pemerintahan dan posisi di perusahaan yang hanya sementara.

Dalam pandangan agama, kemuliaan dan posisi terhormat itu bisa kita raih dengan akhlak yang baik. Dan itu bisa dilakukan oleh siapapun. Baik itu relawan, karyawan, pedagang, petani, nelayan, buruh, pekerja lepas, honorer, asisten rumah-tangga, hamba-sahaya, hingga pengangguran.

Pun oleh seorang mamang penjual es yang dijadikan objek guyonan oleh yang katanya seorang Gus. Wallahualam.

***

_Penulis adalah Ketua Forum Diskusi dan Kajian Liberal Banten Society (Fordiska Libas), domisili di Gintung Jayanti Tangerang_

( Redd/S.Bahri )

error: Content is protected !!