Krisis Listrik Hantam Produksi, PT BMS Rumahkan 570 Karyawan
Luwu.Media.K-PK
Krisis pasokan listrik berdampak langsung terhadap kegiatan produksi PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu.
Perusahaan smelter nikel milik Kalla Group tersebut memutuskan merumahkan sementara sebanyak 570 karyawan, menyusul penghentian sementara operasional Pabrik 1 atau FeNi 1.
Tim Legal PT BMS, Andi Agung, mengatakan persoalan pasokan listrik menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi penurunan produksi perusahaan.
Ia menjelaskan, sumber listrik utama untuk kegiatan operasional BMS berasal dari pembangkit tenaga air milik perusahaan. Namun, debit air saat ini berada pada level terendah dalam lima tahun terakhir.
“Kondisi ini dipengaruhi cuaca ekstrem dan fenomena El Nino sehingga ketersediaan air mengalami penurunan signifikan,” jelasnya.
Keterbatasan pasokan listrik tersebut membuat produksi smelter mengalami penurunan cukup signifikan dalam tiga bulan terakhir.
Kondisi bahkan memaksa perusahaan menghentikan sementara salah satu tungku pada 16 Agustus 2026 karena daya listrik yang tersedia tidak lagi mencukupi untuk mendukung kegiatan produksi secara normal.Penurunan produksi kemudian berdampak terhadap beban operasional perusahaan.
Manajemen akhirnya mengambil sejumlah langkah efisiensi, termasuk melakukan perumahan sementara terhadap sebagian karyawan.
Pemanggilan pekerja oleh HRD dijadwalkan mulai 26 Agustus 2026. Dalam pemanggilan tersebut, perusahaan akan menjelaskan mekanisme dan ketentuan yang berlaku selama masa perumahan sementara.
Andi Agung menegaskan, status 570 karyawan tersebut tetap sebagai karyawan aktif PT BMS.
“BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, dan program jaminan sosial lainnya tetap berjalan,” ujarnya.
Selain jaminan sosial, pekerja yang dirumahkan juga akan mendapatkan kompensasi penyesuaian pendapatan sebesar Rp1,5 juta per bulan selama masa perumahan.
Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan keputusan yang berat bagi perusahaan. Namun, langkah itu ditempuh setelah berbagai upaya efisiensi dilakukan untuk menjaga keberlangsungan operasional perusahaan.
Manajemen PT BMS masih terus memantau perkembangan pasokan listrik dan kondisi pembangkit. Jika kondisi kembali normal, perusahaan akan memprioritaskan pemanggilan kembali pekerja yang dirumahkan secara bertahap sesuai kebutuhan operasional.
PT BMS sendiri memiliki dua fasilitas pengolahan atau tungku smelter. Pabrik 1 memproduksi feronikel dengan kapasitas sekitar 33.000 ton per tahun menggunakan teknologi RKEF.
Ke depan, kawasan industri BMS juga diarahkan untuk mengembangkan produk turunan nikel seperti nickel matte dan nickel sulfate yang memiliki nilai tambah dan dapat menjadi bahan baku industri baterai kendaraan listrik.(*/Basman)

