Darul Kutni Tuhepally :MempertanyakanKenapa Dok Waiyame Saat Ini Sepi , Kemana Saja Peminat Dok Dan Jangan Biarkan Aset Miliaran Rupiah Jadi Besi Tua
Ambon. MediaKOK Co.Id.,
Salah Politisi Maluku, Drs. Darul Kutni Tuhepally, yang juga Pemerhati Kebijakan Publik menyampaikan kepada Pemerintah Provinsi Maluku untuk di ketahui bahwa masyarakat maluku saat ini ada luka besar yang harus kita buka hari ini, untuk disembuhkan
di tanah Maluku sendiri.
Gubernur maluku harus mengetahui kondisi ini, karena kita memiliki PT. Dok Perkapalan Waiyame.
Darul Kutni Tuhepally menyampaikan kepads sejumlah awak Media di Ambon , Selasa 1/9/2026.
Menurutnya Aset bernilai miliaran Rupiah, yang berdiri gagah di Pulau Ambon ini, adalah pusat nadi pelayaran Nusantara Timur.
Namun mirisnya, megahnya bangunan itu hari ini hanya ditemani angin dan sepi Dok Wayame.
Sementara itu, kapal-kapal anak Negeri Maluku justru merantau jauh. Rela antri, rela bayar mahal ke Surabaya, Makassar, bahkan Bitung. Hanya untuk sekadar docking dan perbaikan.
Mengapa mereka meninggalkan rumah sendiri…..???
Karena rumah kita belum menjadi rumah yang layak disinggahi,” Ujar Tuhepally.
Luka yang menderita Dok Wayaime Hari ini sungguh mempertanyakan.
Tambah Tuhepally , semua ini perlu di lihat dari cara kerja Manajemen dan Gaya Dinas, Bukan Gaya Bahari,” Kata Mantan Anggota DPRD Maluku yang juga Ketua Fraksi PPP.
Dok Waiyame masih diperlakukan banyak hal, seperti meja kursi, birokrasi yang lambat, kaku, tanpa denyut bisnis.
Padahal dunia pelayaran butuh kecepatan, ketepatan, dan senyum pelayanan, bukan
Buta Arah, Bisu Pemasaran,”Ingat Darul Kutni.
Berapa banyak pemilik kapal di Maluku yang tahu Waiyame sanggup…? . Namun tidak ada yang menawarkan.
Apakah Tidak ada paket yang menarik atdu tidak ada yang mengetuk pintu. Karena menunggu pelanggan, padahal pelanggan sedang menunggu kita.
Tubuh Tua, Alat Usang.
Crane berkarat, Mesin merintih, bagaimana kapal modern mau bersandar, jika tangan yang menyambutnya masih tangan yang lemah…?. Tanpa investasi, Waiyame hanya akan menjadi monumen kenangan.
Jangan bangkit untuk jadikan Wayaime Mercusuar Industri Maritim Maluku.
Saran dan usulan Tuhepally agar Gubernur Maluku Lahirkan Nahkoda Baru yang Profesional, bukan asal – asalan, sehingga jadi bahan omongan masyarakat maluku.,” Jelasnya.
Cukup sudah cara lama, saatnya hadirkan CEO dari dunia perkapalan yang paham ombak dan omzet. Beri mereka kompas dan target kapal, target pendapatan, yang ada hasil, ada penghargaan, yang ada lalai, sehingga menimbulkan adanya konsekuensi.
Darul Kutni berharap agar Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, S.H.,LLM, perintahkan Nakoda Dok untuk segera Panggil Pulang Kapal-Kapal Kita dengan Insentif.
Harapan Tuhepally untuk Gubernur Hendrik Lewerissa, dapat membuat kebijakan yang keberpihakan. Harga 20% , lebih murah untuk kapal Maluku.
Bebas retribusi 6 bulan pertama dan Tunjukkan bahwa docking di negeri sendiri adalah kebanggaan, bukan beban.
Rangkul Swasta, Bangun Bersama Lewat KPBU.
Negara cukup siapkan tanah, payung hukum, dan keberanian. Swasta bawa teknologi dan mesin. Kita bagi hasil, kita bagi manfaat. Ini bukan soal siapa kuat, tapi bagaimana kita kuat bersama.
Diakhir Penutup Tuhepally berharap Dok Wayaime adalah Cermin harga diri kita.
Waiyame tidak butuh air mata. Waiyame butuh Keberanian Politik.
Butuh Direksi yang bekerja. Butuh Modal yang tepat sasaran. Butuh Pemerintah yang benar-benar berpihak pada anak negeri.
Bayangkan tiga tahun dari sekarang, sirine Waiyame berbunyi 24 jam. Asap las membubung, Anak-anak Maluku, lulusan SMK pelayaran, punya tempat mengadu nasib.
Setiap rupiah dari jasa docking berputar di pasar Mardika, bukan di pasar Surabaya.
Kepada Pemprov dan DPRD Maluku, ini bukan lagi soal “nanti kong” Ini soal “sekarang”. Evaluasi. Putuskan. Bertindak.
Karena jika kita biarkan Waiyame mati hari ini, maka kita sedang menggali kubur untuk cita-cita Maluku sebagai Poros Maritim Dunia.
Tambah Tuhepally, jangan memamerkan
kita punya dok miliaran di Ambon,
tapi kapal Maluku lebih pilih docking di Jawa, bukan di Docking Wayaime. Dan jangan biarkan
Waiyame kita mati.
Aset miliaran mangkrak.
Kapal lari ke luar.
Ini 3 solusi nyata untuk bangkitkan Dok Waiyame.,” tutup Darul Kutni Tuhepally.*
(MNP. 01)

