JATIM-BALI

BKN Hadir Nyadran di Sukun Gondang, Saat Budaya Menjaga Peradaban dan Mata Air Kehidupan

BOJONEGORO,Media.K-PK

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Di sebuah sudut hutan jati di lereng Gondang, waktu seolah berjalan lebih pelan.

Di Pepunden dan Sumber Mata Air Nglegok, Dukuh Sukun, Desa Sambongrejo, ribuan jejak leluhur masih terasa menyatu dengan gemericik air yang tak pernah berhenti mengalir.

Di tempat itulah, Jumat Pahing (24/7/2026), masyarakat bersama Budaya Kusuma Nusantara (BKN) kembali menggelar Nyadran Sedekah Bumi.

Bagi sebagian orang, Nyadran mungkin hanya dianggap tradisi tahunan. Namun bagi masyarakat Sukun, inilah kitab kehidupan yang ditulis bukan dengan tinta melainkan dengan doa, gotong royong, danpenghormatan kepada alam.

Sejal pagi, warga bergandengan tangan mel..bersihkan pepunden, jalan desa, saluran air, hingga sumber mata air. Tak ada perintah, Tak ada upah. Yang bekerja adalah kesadaran bahwa alam yang dirawat hari ini adalah kehidupan yang akan diwariskan kepada anak cucu.

Usai kerja bakti, doa-doa dipanjatkan. Tahlil menggema. Kenduri digelar. Sedekah bumi menjadi ungkapan syukur atas panen yang diberikan Allah SWT sekaligus pengingat bahwa manusia hanyalah penumpang di bumi yang wajib menjaga titipan-Nya.

Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah, Administratur Perhutani KPH Bojonegoro Juwanto, Forkopimcam Gondang, Kapolsek, Kepala Desa Sambongrejo Eko Prastiyono, tokoh masyarakat, dan keluarga besar Budaya Kusuma Nusantara yang dipimpin Kung Heri SuyokoDalam petuah budayanya, Kung Heri Suyoko tidak hanya berbicara tentang adat. la sedang menanamkan filosofi hidup.

“Nyadran iki dudu mung adat, nanging piwulang urip. Wong Jawa kudu gelem nyambut gawe, ngajeni wong tuwa, ngopeni alam lan uri-uri budaya. Ojo Males Yen ngin Urip Mulyo.”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung makna besar. Kemuliaan tidak pernah lahir dari kemalasan. la tumbuh dari kerja keras, kejujuran, doa, dan kesediaan menjaga warisan leluhur.

Secara ilmiah, filosofi tersebut merupakan bentuk kearifan lokal (local wisdom) yang telah terbukti menjadi modal sosial masyarakat Nusantara.

Nilai gotong royong memperkuat kohesi sosial, penghormatan terhadap leluhur membangun identitas budaya, sedangkan pelestarian mata air menjadi fondasiketahanan lingkungan dan keberlanjutan kehidupan.

Pesan yang tak kalah kuat disampaikan Administratur Perhutani KPH Bojonegoro, Juwanto.

“Jang sampai kita meninggalkan air mata bagi anak cucu, tetapi tinggalkanlah mata air.”

Sebuah kalimat pendek, tetapi sarat makna ekologis.

Ketika dunia mulai berbicara tentang krisis air dan perubahan iklim, masyarakat Sukun telah lebih dahulu mempraktikkan konservasi melalui budaya. Mereka sadar, hilangnya mata air bukan sekadar hilangnya air, tetapi juga hilangnya sawah, pangan, kehidupan, bahkan peradaban.

Wakil Bupati Nurul Azizah memberikan apresiasi kepada Budaya Kusuma Nusantara yang konsisten menjaga denyutbudaya di tengah derasnya modernisasi.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak cukup dihitung dari panjang jalan yang dibangun atau tingginya gedung yang berdiri. Pembangunan sejati adalah ketika budaya tetap hidup, karakter masyarakat tetap kuat, dan lingkungan tetap lestari.

la juga memaparkan arah pembangunan Kabupaten Bojonegoro yang terus diperkuat melalui peningkatan layanan kesehatan dengan pengembangan rumah sakit onkologi, rumah sakit jantung, rumah sakit jiwa, penguatan sektor pertanian, hingga pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

2 Sementara itu, Kepala Desa Sambongrejo Eko Prastiyono menuturkan bahwa Sedekah Bumi bukan hanya ungkapan syukur atas hasil panen, tetapi juga momentum mempererat persaudaraan warga
Tahun ini, kata Eko, Nyadran memiliki makna lebih karena menjadi awal kebersamaan dengan Kepala Dusun Sukun yang baru ehingga diharapkan mampu meneruskan semangat pelayanan, gotong royong, dan pelestarian budaya yang selama ini menjadi jati diri masyarakat.

Di Dukuh Sukun, budaya tidak sedang dipertontonkan.

Budaya sedang dihidupkan.

Pepunden tidak sekadar menjadi situs sejarah. Mata air tidak hanya menjadi sumber air. Keduanya adalah simbol bahwa manusia harus selalu ingat dari mana kehidupan berasal.

Di tengah zaman yang serba digital, ketika banyak generasi mulai asing dengan akar budayanya, masyarakat Sukun justru mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus memutus hubungan dengan masa lalu.Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang lupakan tradisinya, melainkan bangsa yang mampu menjadikan tradisi sebagai energi membangun masa depan.

Dan dari Nglegok, satu petuah kembali menggema, sederhana tetapi abadi:

“Ojo Males Yen Pengin Urip Mulyo.”

Sebab kemuliaan bukan hadiah. Kemuliaan adalah buah dari kerja keras, rasa syukur, kepedulian menjaga alam, dan kesetiaan merawat budaya Nusantara.

(Yahmin).

error: Content is protected !!