DANA ADK DAN DD DISOROT! Diduga Minim Manfaat bagi Masyarakat, Lembaga Dewan Adat Dayak Desak BPK dan BPKP Audit 59 Kampung di Kutai Barat
KUTAI BARAT, Media KPK – Pengelolaan Alokasi Dana Kampung (ADK) dan Dana Desa (DD) di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, mulai menjadi sorotan. Minimnya pembangunan yang terlihat secara kasat mata serta dugaan kurangnya transparansi penggunaan anggaran memunculkan desakan agar dilakukan audit investigasi secara menyeluruh.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Lembaga Dewan Adat Dayak Benuaq, Tunjung dan Bentian, M. Darliansyah (Tulus Rus), menyatakan pihaknya berencana melayangkan surat permohonan audit investigasi kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur pada pekan depan.
Permohonan tersebut ditujukan untuk mendorong pemeriksaan terhadap pengelolaan ADK dan DD selama Tahun Anggaran 2020 hingga 2025.
Menurut Darliansyah, terdapat dugaan bahwa penggunaan dana kampung selama ini belum memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Bahkan, pihaknya mempertanyakan apakah anggaran yang mencapai miliaran rupiah setiap tahun benar-benar digunakan sesuai peruntukannya.
“Anggaran ADK dan DD nilainya mencapai sekitar Rp2 miliar hingga Rp3 miliar per tahun. Namun, berdasarkan pantauan kami, pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat masih minim. Kami juga mempertanyakan sejauh mana keterbukaan pemerintah kampung dalam menyampaikan penggunaan anggaran tersebut kepada masyarakat,” ungkapnya.
Ia menegaskan, audit investigasi diperlukan untuk memastikan apakah seluruh penggunaan anggaran telah sesuai ketentuan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan, pengadaan barang dan jasa, hingga pertanggungjawaban keuangan.
EMPAT KECAMATAN MENJADI SASARAN AWAL AUDIT
Sebagai langkah awal, pihaknya menyoroti empat kecamatan dengan total 59 kampung yang dinilai perlu mendapatkan perhatian dan pemeriksaan lebih lanjut.
Adapun empat kecamatan tersebut meliputi:
1. Kecamatan Bongan – 16 Kampung
1. Kampung Bukit Harapan.
2. Kampung Deraya.
3. Kampung Gerunggung.
4. Kampung Jambuk.
5. Kampung Jambuk Makmur.
6. Kampung Lemper.
7. Kampung Muara Gusik.
8. Kampung Muara Kedang.
9. Kampung Muara Siram.
10. Kampung Penawai.
11. Kampung Pereng Taliq.
12. Kampung Resak.
13. Kampung Siram Jaya.
14. Kampung Tanjung Sari.
15. Kampung Tanjung Soke.
16. Kampung Muara Siram.
2. Kecamatan Jempang – 12 Kampung
1. Kampung Bekokong Makmur.
2. Kampung Lembonah.
3. Kampung Mancong.
4. Kampung Muara Nayan.
5. Kampung Muara Ohong.
6. Kampung Muara Tae.
7. Kampung Pentat.
8. Kampung Perigiq.
9. Kampung Pulau Lanting.
10. Kampung Tanjung Isuy.
11. Kampung Tanjung Jan.
12. Kampung Tanjung Jone.
3. Kecamatan Damai – 16 Kampung
1. Kampung Benung.
2. Kampung Bermai.
3. Kampung Damai Kota.
4. Kampung Damai Seberang.
5. Kampung Jengan Danum.
6. Kampung Keay.
7. Kampung Kelian.
8. Kampung Lumpat Dahuq.
9. Kampung Mantar.
10. Kampung Muara Bomboy.
11. Kampung Muara Nilik.
12. Kampung Muara Nyahing.
13. Kampung Muara Tokong.
14. Kampung Sempatn.
15. Kampung Tepulang.
16. Kampung Mandika.
4. Kecamatan Mook Manaar Bulatn – 15 Kampung
1. Kampung Abit.
2. Kampung Batuq.
3. Kampung Gadur.
4. Kampung Gemuruh.
5. Kampung Gunung Rampah.
6. Kampung Karangan.
7. Kampung Kelumpang.
8. Kampung Linggang Marimun.
9. Kampung Merayaq.
10. Kampung Muara Benanggaq.
11. Kampung Muara Jawaq.
12. Kampung Rempayan.
13. Kampung Sakaq Lotoq.
14. Kampung Sakaq Tada.
15. Kampung Tondoh.
BPK DAN BPKP DIMINTA TELUSURI PENGGUNAAN ANGGARAN SELAMA LIMA TAHUN
Darliansyah menegaskan, permohonan audit investigasi tersebut bukan semata-mata untuk mencari kesalahan aparatur pemerintah kampung, melainkan sebagai upaya mendorong transparansi dan memastikan uang negara benar-benar digunakan untuk kepentingan masyarakat.
Pemeriksaan diharapkan mencakup dokumen perencanaan, APBKam, laporan realisasi anggaran, bukti pelaksanaan pekerjaan fisik, hingga kesesuaian antara anggaran yang dicairkan dengan hasil pembangunan di lapangan.
Ia juga menyatakan siap mengawal proses permohonan tersebut kepada BPK maupun BPKP Perwakilan Kalimantan Timur agar aspirasi masyarakat mendapat perhatian serius.
“Kami ingin dana ADK dan DD benar-benar tepat sasaran. Jangan sampai anggaran yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat justru tidak memberikan manfaat sebagaimana mestinya. Jika ditemukan penyimpangan, tentu harus ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegasnya.
TRANSPARANSI JANGAN HANYA DI ATAS KERTAS
Dana Desa dan Alokasi Dana Kampung merupakan instrumen penting untuk mendorong pemerataan pembangunan, meningkatkan pelayanan publik, serta memperkuat perekonomian masyarakat kampung.
Karena itu, keterbukaan informasi mengenai besaran anggaran, jenis kegiatan, lokasi pembangunan, pelaksana pekerjaan, dan laporan pertanggungjawaban harus menjadi kewajiban pemerintah kampung.
Masyarakat berhak mengetahui ke mana anggaran miliaran rupiah tersebut dialokasikan dan apa hasil nyata yang telah dibangun.
Kini, publik menunggu langkah konkret BPK dan BPKP Perwakilan Kalimantan Timur dalam menindaklanjuti rencana permohonan audit investigasi tersebut.
Sebab, anggaran negara bukan milik pribadi kepala kampung maupun kelompok tertentu, melainkan uang rakyat yang harus dipertanggungjawabkan.
BERSAMBUNG KE EDISI BERIKUTNYA.
(PGS/PD – Media KPK)

