MDA Kaji Nilai Ekonomi Ekosistem Sungai di Luwu, Libatkan Pakar BRIN.LUWU – PT Masmindo Dwi Area (MDA) terus memperkuat upaya pengelolaan dan perlindungan lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni melalui Kajian Valuasi Ekonomi Jasa Ekosistem Sungai yang dilaksanakan pada 9–16 Oktober 2026 di tujuh desa di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Kajian tersebut bertujuan mengidentifikasi sekaligus mengukur nilai ekonomi dari berbagai manfaat yang dihasilkan ekosistem sungai, baik bagi kelestarian lingkungan maupun kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Tujuh desa yang menjadi lokasi pelaksanaan kajian meliputi Desa Rante Balla, Boneposi, Tolajuk, Ulusalu, Pajang, Kadundung, dan Tobarru. Wilayah kajian difokuskan pada kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Suso, khususnya ekosistem Sungai Songgang dan Sungai Kadundung yang memiliki keterkaitan dengan wilayah operasional MDA.
Dalam pelaksanaannya, MDA menggandeng konsultan dengan melibatkan sejumlah pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Keterlibatan para ahli tersebut diharapkan dapat memastikan proses pengumpulan dan analisis data dilakukan secara ilmiah, terukur, serta memperhatikan berbagai aspek lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Penilaian dalam kajian ini mencakup beragam manfaat ekosistem sungai. Di antaranya, fungsi sungai sebagai sumber penyediaan air untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian, habitat bagi keanekaragaman hayati perairan, pengendalian banjir dan erosi, hingga kemampuan vegetasi di sepanjang aliran sungai dalam membantu proses pemurnian air secara alami.
Selain aspek ekologis, kajian juga memperhatikan dimensi sosial dan ekonomi masyarakat, termasuk nilai budaya serta kearifan lokal yang selama ini berkaitan dengan keberadaan sungai.
Seluruh komponen tersebut menjadi bagian penting dalam menghitung Nilai Ekonomi Total atau Total Economic Value (TEV) jasa ekosistem sungai. Melalui pendekatan ini, manfaat sungai tidak hanya dilihat dari pemanfaatan langsung oleh masyarakat, tetapi juga dari fungsi ekologis dan manfaat tidak langsung yang mendukung keberlangsungan lingkungan.
Untuk memperoleh data yang komprehensif, tim kajian melakukan sejumlah kegiatan lapangan, mulai dari survei kondisi fisik sungai, pengukuran kualitas air dan sedimentasi, pengamatan habitat serta keanekaragaman hayati perairan, hingga wawancara langsung dengan masyarakat di sekitar lokasi kajian.
Pengumpulan data sosial ekonomi juga dilakukan untuk mengetahui pola pemanfaatan sungai, tingkat ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya air, serta berbagai manfaat yang selama ini dirasakan dalam menunjang aktivitas dan kehidupan sehari-hari.
Dalam prosesnya, pelaksanaan kajian turut dikoordinasikan dengan sejumlah instansi Pemerintah Kabupaten Luwu, yakni Dinas Lingkungan Hidup, Perumda Air Minum Tirta Latimojong, Dinas Perikanan, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
Koordinasi lintas instansi tersebut dilakukan untuk memperoleh masukan, melengkapi kebutuhan data, serta mendukung proses analisis terhadap kondisi dan pemanfaatan ekosistem sungai di wilayah kajian.
Seluruh data yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis untuk menghasilkan estimasi nilai ekonomi jasa ekosistem sungai. Hasilnya diharapkan dapat menjadi salah satu landasan ilmiah dalam menyusun perencanaan pengelolaan, perlindungan, dan pemantauan lingkungan secara lebih terarah.
Kepala Teknik Tambang MDA, Mustafa Ibrahim, mengatakan kajian valuasi ekonomi jasa ekosistem sungai merupakan salah satu langkah perusahaan dalam memperkuat pengelolaan lingkungan dengan mengedepankan pendekatan berbasis data ilmiah serta memperhatikan kebutuhan masyarakat.
“Melalui valuasi yang terukur secara ilmiah, MDA merumuskan pendekatan pengelolaan lingkungan yang lebih tepat dengan mempertimbangkan kondisi ekosistem dan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Kajian ini bagian dari upaya menjaga ekosistem sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.(Basman)

