Kiai Pesantren Serukan Muktamar NU ke-35 Kembali ke Khittah: Cak Imin Paling Tepat Nahkodai PBNU
Jakarta, MediaKPK.Co.Id.,
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Jelang Muktamar NU ke-35*, suara dari pesantren mulai menggema. Sejumlah kiai pimpinan pesantren menyerukan agar Muktamar mendatang benar-benar kembali ke khittah: kembali ke pesantren sebagai pemilik sah Nahdlatul Ulama. Dan nama yang paling lantang disebut adalah H. Muhaimin Iskandar (Cak Imin)
Seruan itu disampaikan Gus Maftuh melalui Forum Pecinta Gus Muhaimin Iskandar (FPGMI). Menurutnya, dukungan kepada Cak Imin bukan soal politik praktis, tapi soal menyelamatkan ruh NU.
Perlu diingat, selama ini hanya Cak Imin yang konsisten istiqomah membantu, merawat pondok pesantren dan menjaga pondok pesantren saat diterpa banyak cobaan. Itu wujud kepedulian yang mengalir dalam dirinya secara ideologis maupun biologis,” tegas Gus Maftuh.
Dukungan serupa juga disuarakan Gus Muwafiq. Dalam forum silaturahmi kiai dan aktivis NU dari berbagai daerah, beliau menekankan pentingnya menjaga marwah organisasi agar tetap di atas kepentingan umat dan bangsa. “Gus Muhaimin Iskandar sudah teruji. Saatnya Gus Muhaimin menakhodai PBNU,” ucapnya lantang.
Gus Maftuh mewakili “Kiai-Kiai Kampung se-Indonesia” mengakomodir keresahan Nahdliyin akar rumput. Mereka berharap Muktamar NU ke-35 digelar di pondok pesantren, bukan di gedung megah jauh dari denyut santri. “Sejatinya pondok pesantren inilah pemilik sah NU. Muktamar harus mengembalikan NU kepada khittahnya,” serunya.
Pesan yang sama terus diulang : “NU didirikan oleh para ulama dengan pengorbanan besar. Maka semangat perjuangan itu harus dijaga, jangan sampai NU kehilangan ruh perjuangannya sendiri,” pungkas Gus Maftuh. Darah NU Cak Imin yang tersambung ke KH Bishri Syansuri, pendiri NU, menjadi bukti kuat bahwa beliau paham nadi pesantren. Kini bola ada di tangan warga Nahdliyyin.
Jika pesantren bergerak, jika kiai kampung bersatu, maka Muktamar NU ke-35 bukan sekadar pergantian ketua. Tapi kebangkitan NU untuk kembali mengabdi kepada umat, menjaga tradisi Islam Nusantara, dan menguatkan pendidikan serta dakwah dari desa hingga kota.
Khusus untuk Nahdliyyin Maluku, gema pesantren dari tanah rempah ini tak boleh tertinggal. Dari Ambon, Ternate, hingga pelosok pulau, santri dan kiai harus bangkit menyuarakan khittah. Biarkan Muktamar NU ke – 35 mendengar suara Maluku: bahwa NU di timur Indonesia tetap kokoh, tetap setia menjaga tradisi, dan siap berdiri di barisan depan mendukung Cak Imin menahkodai PBNU demi kemaslahatan umat.
“Warga Nahdliyyin, saatnya bangkit dari seluruh penjuru. Pesantren memanggil, khittah menanti”.*
(MNP. 01)

