Uncategorized

MEMOHON KEPADA PRESIDEN PRABOWO: 39 WNI DI MADAGASKAR MENJERIT MINTA DIPULANGKAN, UANG MAKAN HABIS DAN TERKURUNG DI KANTOR POLISI

 

 

ANTANANARIVO, MADAGASKAR – Media K-PK – Di tengah ketidakpastian yang berkepanjangan, sebanyak 39 Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini berada di Antananarivo, Madagaskar, kembali menyampaikan permohonan mendesak kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar turun tangan membantu mempercepat kepulangan mereka ke Tanah Air.

 

Melalui surat permohonan bertajuk Percepatan Pemulangan 39 WNI di DRSP Madagaskar dengan Biaya Pribadi, mereka menggambarkan kondisi yang semakin memprihatinkan. Uang untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dilaporkan telah habis, sementara ruang gerak mereka dibatasi selama berada di kantor polisi setempat.

 

Dalam situasi tersebut, para WNI mengaku menghadapi tekanan dan kekhawatiran, termasuk ancaman penempatan di sel isolasi apabila melanggar aturan yang diberlakukan di lokasi mereka berada.

 

Di balik kondisi yang mereka alami, ada keluarga di Indonesia yang terus menunggu kabar kepulangan orang-orang tercinta. Ada orang tua yang berharap anaknya segera kembali, pasangan yang menanti kehadiran suami atau istri, serta keluarga yang mendambakan pertemuan kembali setelah berbulan-bulan diliputi kecemasan.

 

TEGASKAN SIAP PULANG DENGAN BIAYA PRIBADI

 

Dalam surat permohonannya, perwakilan 39 WNI menegaskan bahwa mereka berkomitmen membiayai kepulangan menggunakan dana pribadi, bukan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

 

Mereka berharap proses pemulangan tidak dikaitkan dengan pengajuan pembiayaan kepada pemerintah, karena yang saat ini dibutuhkan adalah kepastian proses perjalanan dan penyelesaian administrasi agar mereka dapat segera kembali ke Indonesia.

 

“Kami 39 orang berkomitmen pulang dengan biaya pribadi, bukan APBN. Mohon proses tidak dikaitkan dengan amprahan pemerintah,” demikian penegasan dalam surat permohonan tersebut.

 

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa permintaan mereka berfokus pada percepatan penyelesaian proses kepulangan, bukan meminta pemerintah menanggung seluruh ongkos perjalanan.

 

APRESIASI KBRI, MENUNGGU KEPASTIAN MASKAPAI

 

Dalam keterangannya, para WNI juga menyampaikan bahwa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Antananarivo telah berupaya maksimal membantu proses pemulangan mereka.

 

Namun, berdasarkan informasi yang disampaikan dalam surat tersebut, proses itu masih menunggu konfirmasi final dari Ethiopian Airlines.

 

Karena itu, mereka memohon agar pemerintah Indonesia dapat membantu mengawal komunikasi dan koordinasi dengan pihak maskapai sehingga kepastian jadwal serta mekanisme kepulangan segera diperoleh.

 

Bagi ke-39 WNI tersebut, kepastian bukan sekadar persoalan jadwal penerbangan. Kepastian berarti terbukanya jalan untuk meninggalkan situasi yang mereka nilai semakin sulit dan kembali berkumpul bersama keluarga di Tanah Air.

 

MOHON PERHATIAN PRESIDEN PRABOWO DAN PEMERINTAH

 

Para WNI secara khusus memohon perhatian Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah segera mengambil langkah yang diperlukan sesuai kewenangan, termasuk mendorong koordinasi antara Kementerian Luar Negeri, KBRI Antananarivo, dan Ethiopian Airlines.

 

Mereka berharap status sebagai warga negara Indonesia yang sedang menghadapi persoalan di luar negeri menjadi perhatian serius negara, terutama dalam hal perlindungan, pendampingan, kepastian hukum, dan fasilitasi kepulangan.

 

Mereka juga menyatakan bahwa seluruh rombongan merupakan korban. Meski demikian, status dan penanganan hukum masing-masing orang tetap perlu dipastikan melalui proses serta keterangan resmi dari pihak berwenang.

 

Dalam keadaan seperti ini, komunikasi yang terbuka, pendampingan konsuler yang berkelanjutan, serta kejelasan mengenai langkah yang masih harus ditempuh menjadi sangat penting untuk mengurangi ketidakpastian yang mereka alami.

 

BERI BATAS WAKTU 2 X 24 JAM, KELUARGA SIAP GELAR AKSI DAMAI

 

Permohonan tersebut turut disertai pernyataan tegas dari perwakilan orang tua dan kerabat para WNI di Indonesia.

 

Mereka menyatakan, apabila dalam waktu 2 x 24 jam setelah berita ini diterbitkan belum ada kepastian mengenai proses kepulangan, keluarga dan kerabat berencana menggelar aksi damai di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Jakarta.

 

Rencana tersebut disebut sebagai bentuk desakan agar persoalan 39 WNI memperoleh perhatian dan penanganan yang lebih serius, sekaligus mendorong adanya kejelasan mengenai tindak lanjut proses kepulangan.

 

Keluarga berharap langkah tersebut tidak perlu ditempuh apabila dalam waktu dekat sudah ada perkembangan nyata dan kepastian yang dapat disampaikan kepada para WNI maupun keluarga mereka.

 

JANGAN BIARKAN 39 WNI TERUS MENUNGGU TANPA KEPASTIAN

 

Kasus ini menjadi pengingat bahwa persoalan yang dihadapi warga negara Indonesia di luar negeri membutuhkan perhatian dan koordinasi yang sungguh-sungguh. Di saat kebutuhan dasar semakin sulit dipenuhi dan kepastian perjalanan belum diperoleh, setiap perkembangan yang jelas sangat berarti bagi mereka dan keluarga di Tanah Air.

 

Para WNI tidak hanya berharap dapat segera pulang dengan biaya sendiri. Mereka juga mendambakan kepastian, perlindungan, dan kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan bersama keluarga.

 

Kini, perhatian publik tertuju pada langkah lanjutan pemerintah Indonesia dan kepastian dari Ethiopian Airlines. Harapan mereka sederhana: proses segera menemukan jalan keluar, kepulangan dapat direalisasikan, dan 39 WNI tersebut bisa kembali menginjakkan kaki di Tanah Air.

Kepada Presiden Prabowo Subianto dan seluruh pihak terkait, suara 39 WNI ini kiranya dapat segera mendapat jawaban nyata. Jangan biarkan mereka dan keluarga terus menunggu dalam ketidakpastian.

(Redaksi Media K-PK)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
×
Banner Iklan 1
Banner Iklan 2
Banner Iklan 3